Kontribusi besar yang diberikan winger Persija Jakarta, Allano Lima, sepanjang BRI Super League 2025/2026 sebenarnya cukup menonjol. Dari 21 pertandingan yang telah dijalani, pemain asal Brasil itu mampu mencatatkan enam gol, tujuh assist, serta tujuh penghargaan man of the match (MOTM).
Namun, performa impresif tersebut sedikit tertutupi oleh masalah kedisiplinan di lapangan. Allano menjadi pemain dengan koleksi kartu kuning terbanyak musim ini setelah mengantongi 12 kartu kuning di kompetisi BRI Super League.
Akibat akumulasi tersebut, Allano kembali harus menepi untuk keempat kalinya pada musim ini. Ia dipastikan tidak dapat memperkuat Persija ketika menghadapi Dewa United pada laga tunda pekan ke-25 yang berlangsung di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, Minggu (15/3/2026).
Absennya pemain berusia 29 tahun itu tentu menjadi kerugian bagi Persija. Pasalnya, Allano merupakan salah satu sosok penting dalam skema permainan tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut.
Karakter Ekspresif yang Melekat pada Allano
Pihak Persija menilai karakter yang dimiliki Allano merupakan hal yang cukup unik. Ia dikenal sebagai pemain dengan kualitas teknik yang baik, tetapi memiliki gaya bermain yang sangat ekspresif di lapangan.
Karakter tersebut dianggap tidak terlepas dari latar belakang budaya sepak bola Brasil yang identik dengan kebebasan berekspresi serta menikmati permainan. Hal inilah yang terkadang membuat emosinya lebih mudah terpancing dalam situasi pertandingan.
Bagi sebagian pemain, karakter seperti itu bisa menjadi kekuatan karena mampu menambah energi dan kreativitas saat bermain. Namun di sisi lain, sikap yang terlalu ekspresif juga berpotensi menimbulkan masalah disiplin jika tidak dikendalikan dengan baik.
Persija Sudah Berulang Kali Memberikan Peringatan
Manajemen Persija sebenarnya telah beberapa kali memberikan pengingat kepada Allano agar lebih menjaga emosi selama pertandingan. Upaya tersebut dilakukan agar ia tidak lagi terjebak dalam pelanggaran yang berujung kartu kuning.
Meski demikian, sikap ekspresif yang menjadi bagian dari kepribadiannya kerap muncul secara spontan di lapangan. Hal tersebut membuat upaya pengendalian emosi menjadi tantangan tersendiri bagi tim pelatih maupun manajemen.
Persija menyadari bahwa pemain dengan karakter seperti Allano membutuhkan pendekatan yang tepat agar tetap bisa bermain lepas tanpa merugikan tim melalui akumulasi kartu.
Persija Menghadapi Dilema dalam Mengatur Disiplin
Situasi ini menempatkan Persija pada posisi yang cukup dilematis. Di satu sisi, klub ingin mengurangi risiko kartu kuning yang terus bertambah. Namun di sisi lain, mereka juga tidak ingin membatasi kreativitas Allano yang selama ini menjadi salah satu sumber kekuatan tim.
Terlalu banyak aturan dikhawatirkan justru membuat pemain tersebut kehilangan kebebasan bermain. Jika hal itu terjadi, performa yang selama ini menjadi keunggulan Allano bisa saja ikut menurun.
Karena itu, Persija masih terus mencari pendekatan yang paling tepat agar pemain tersebut dapat mengontrol emosinya tanpa kehilangan karakter bermainnya.
Upaya Persija Menemukan Solusi Terbaik
Manajemen Persija kini berupaya meningkatkan komunikasi dengan Allano untuk mencari jalan keluar terbaik dari permasalahan ini. Pendekatan yang lebih intensif diharapkan mampu membuat pemain tersebut memahami dampak negatif dari terlalu banyaknya kartu kuning terhadap tim.
Sebelumnya, beberapa pemain lain di skuad Persija juga sempat mengalami persoalan serupa, tetapi secara bertahap mereka mampu memperbaiki kedisiplinannya setelah mendapatkan arahan dari tim pelatih.
Saat ini, Allano menjadi satu di antara sedikit pemain yang masih perlu meningkatkan kontrol emosinya. Oleh karena itu, Persija berencana terus melakukan pendekatan secara personal agar pemain tersebut dapat menyesuaikan diri dan tetap memberikan kontribusi maksimal tanpa merugikan tim dalam sisa pertandingan musim ini.


